HARUSKAH KITA DIAM… ATAU MEMBANTUNYA!
Kampung Rancalulu, Desa Perdana, Pandeglang, Banten. Sesosok bayi lelaki mungil terlahir ke dunia tanpa memiliki kaki, tangan dan anus. Hebatnya lagi, meski cacat namun bayi ini terlahir secara normal dan dalam kondisi sehat walafiat.
Hingga saat ini pihak keluarga belom bisa membawa anak kesayangannya tersebut ke rumah sakit karena terbentur masalah biaya. Meskipun terlahir dengan kondisi cacat, namun orang tua sang bayi tetap berharap agar anaknya itu dapat tumbuh dengan sehat.
Sejumlah warga Kampung Rancalulu, Desa Perdana, Pandeglang , Banten, Kamis siang memenuhi rumah keluarga Asiah, ibu yang baru saja melahirkan bayi yang tidak normal seperti bayi umumnya. Warga penasaran ingin melihat secara langsung kondisi bayi tersebut.
Bayi yang hingga saat ini belum memiliki nama ini, lahir pada Selasa siang tanggal 27 maret 2012 .Proses kelahiran secara normal dengan bantuan seorang bidan desa. Meski saat dilahirkan kondisi kesehatan jabang bayi dalam keadaan sehat . Namun, bayi tersebut memiliki kekurangan tidak memiliki dua lengan tangan, kaki, dan tidak memiliki lubang anus.
Saat dilahirkan bayi yang merupakan anak ketiga dari pasangan Parsalan dan Asiah , memilik berat 3 kilogram, dan panjang 25 sentimeter.
Menurut Asia, dirinya saat mengandung hingga melahirkan tidak memilik firasat. Namun, ia mengaku jika kandungan anaknya agak berbeda jika dibandingkan dengan kandungan 2 anak sebelumnya. Meski harus cepat mendapat penanganan karena tidak memiliki lubang anus, namun hinggga saat ini pihak keluarga belum berencana membawa bayinya ke rumah sakit karena alasan biaya.
Sementara itu, menurut Titin Maryati, bidan desa, pihak keluarga dan bidan yang membantu proses kelahiran baru mengetahui kelainan bayi tersebut saat dilahirkan. Selama bayi dalam kandungan, Asiah tidak melakukan pemeriksaan melalui USG. Kini setelah 2 hari lahir kesehatan bayi mula menurun, bahkan terkadang mengalami sesak nafas.
Bayi tersebut terlahir tanpa kaki dan kedua tangannya disebabkan karena ada nya kesalahan pada genetik yang tidak bisa berkembang dengan baik saat masih dalam kandungan dan sedangkan tidak ada nya lubang anus disebabkan karena kekurangan gizi saat ibu dari bayi tersebut masih mengandung, kurangnya asupan karbohidrat dan protein yang masuk menyebabkan bayi tersebut tidak dapat berkembang secara baik sehingga tidak terdapatnya lubang anus pada bayi tersebut.
Pihak keluarga kini sangat menginkan agar bayinya bisa dibawa ke rumah sakit agar tumbuh sehat. Namun, tidak punya uang buat biaya pengobatan. Saat ini, Asiah yang tinggal bersama orang tuanya merasa kebingungan untuk bisa membawa anaknya ke ruma sakit . Pasalnya ayah sang bayi hanya bekerja sebagai buruh tani kelapa sawit di Kalimantan, Pandeglang, Banten. Dan hingga saat ini belum melihat kondisi anaknya.
“saya hanya bisa pasrah anak saya kalau ada yang memberi kan bantuan untuk menjalani rujuk ini, tapi kalo memang tidak ada biaya saya hanya bisa pasrah saja”, ujar ayah bayi tersebut.
Sungguh malangnya nasib bayi tersebut, saya sebagai mahasiswa di indonesia merasa terketuk hati nya untuk membantu dengan masyarakat indonesia yang membutuh kan bantuan dari kita orang orang yang berkecukupan. Bahkan saat ibu dari bayi tersebut tidak dapat memberikan asupan yang dibutuhkan bayi tersebut, bagaimana dengan membayar perawatan bayi nya tersebut.
Semoga dengan ada nya berita ini dan informasi ini, kita dapat terketuk hati nya untuk menyisihkan sebagian uang dari kita untuk orang yang lebih membutuhkan, karena hanya dengan bantuan sebesar Rp 1.000 saja untuk berjuta juta nya warga di Indonesia sudah dapat meringankan beban orang tua bayi tersebut.
**Bantuan Dana Dapat Disalurkan ke:
CIMB NIAGA A.N. ZAHRA ANNISA HASANAH 524-01-00706-11-9
BNI A.N. ZAHRA ANNISA HASANAH 020-147-151-8
BCA A.N. BILLY SHAUMANIKO 115-042-268-35
MANDIRI 126-00-0556486-8 A.N TJU TJU KURNIA**
Kami atas nama Universitas Sriwijaya, Palembang Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi
Kita terbiasa melihat gelas dari setengah kosongnya. Bukan setengah isi. Dahlan Iskan dengan lugas membedah fenomena gelas tersebut: 10-80-10!
Menurutnya, di semua organisasi, tak terkecuali HJMA palembang sebetulnya yang betul-betul tidak baik itu cuma 10 persen. Tapi, yang betul-betul baik juga hanya 10 persen. Sisanya, yang 80 persen itu ikut-ikutan saja.
Nah, mungkin hanya 10 % persen dari kita yang melihat bahwa organisasi yang kita ikuti merupakan organisasi yang besar dan harus dijalankan. Dan 10 % pasti membantahnya. Dan sisanya tergantung kemana angin berhembus.
Dan, lagi-lagi saya kita untuk memberi ruang supaya arah hembusan angin itu benar, medialah salah satu kuncinya. Media bisa membanjiri dengan berita gelas “setengah isi”. Bahwa prestasi haruslah menjadi capaian kolektif organisasi.
kita pasti bisa, kita akan raih bintang-bintang
kita bisa jadi yang terdepan
bersatu bersama dalam satu irama
terbang meraih kejayaan, kita bisa!
kita pasti bisa, kita akan raih bintang-bintang
kita bisa jadi yang terdepan
bersatu bersama dalam satu irama
terbang meraih kejayaan, kita bisa!
wae wa e o, wae wa e o
Fakta bahwa gelas itu memang setengah isinya ya kita terima. Tapi gelas itu tetaplah ada isinya. Kita syukuri saja seraya berupaya menambahnya bersama yang lain, entah yang 80 atau malah ditambah 10 % itu. Wallahu a’lam.
http://yaserace.blogspot.com/2011/11/sea-games-dan-gelas-setengah-isi-dahlan.html